

Orang-orang pinggiran di Medan adalah masyarakat kebanyakan. Salah satunya yang tinggal di pinggir jalur rel kereta api. Seperti yang ada di foto-foto ini. Ada banyak alasan mengapa orang-orang ini berani menghadapi bahaya--tinggal berdampingan dengan jalur kereta api yang masih aktif. Salah satunya adalah kesusahan perekonomian. Menurut Bu Regar, nenek dari lima orang cucu ini, dia sudah sepuluh tahun tinggal di pinggir rel kereta api kawasan Jalan Tamrin. " karena tidak adanya uanglah, maka saya harus tinggal di samping rela ini. Kalau ada uang saya, masak saya tidak mau tinggal di tempat yang lebih nyaman." Jelasnya dengan serius.
Selain dia dan seorag anak dan soerang menantunya bersama dua cucunya, masiha ada sekitar 50 kepala keluarga yang tinggal di sepanjang pinggir rel kereta api di kawasan Jalan Tamrin tersebut. Rata-rata dari mereka berprofesi sebagaii pemulung atau peminta-minta. Selain sebagai tukang cuci pakaian, pembantu Rumah Tangga (RT) dan pelayan toko.
Meski tinggal di kawasan berbahaya, tetapi kelihatannya mereka sudah terbiasa dan menganggap deru mesin kereta api yang lewat hingga belasan kali dalam sehari merupakan hal wajar. Bahkan anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut sudah sangat mengenal jadwal kedaangan kereta. Kuping mereka juga sangat peka dengan suara kerta api yang tiba dari kejauhan sehingga mereka sudah menjauh dari rel, ketika kereta lewat.Yang mereka takuti bukanlah bahaya kalau-kalau disambar kereta api, namun justru penggusuran oleh pihak Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) lah yang menghantui kecemasan mereka.
Selain dia dan seorag anak dan soerang menantunya bersama dua cucunya, masiha ada sekitar 50 kepala keluarga yang tinggal di sepanjang pinggir rel kereta api di kawasan Jalan Tamrin tersebut. Rata-rata dari mereka berprofesi sebagaii pemulung atau peminta-minta. Selain sebagai tukang cuci pakaian, pembantu Rumah Tangga (RT) dan pelayan toko.
Meski tinggal di kawasan berbahaya, tetapi kelihatannya mereka sudah terbiasa dan menganggap deru mesin kereta api yang lewat hingga belasan kali dalam sehari merupakan hal wajar. Bahkan anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut sudah sangat mengenal jadwal kedaangan kereta. Kuping mereka juga sangat peka dengan suara kerta api yang tiba dari kejauhan sehingga mereka sudah menjauh dari rel, ketika kereta lewat.Yang mereka takuti bukanlah bahaya kalau-kalau disambar kereta api, namun justru penggusuran oleh pihak Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) lah yang menghantui kecemasan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar