Jumat, 20 Maret 2009

Pembuat Batu Bata



Anak-anak pembuat batu bata di Lubuk Pakam ini adalah anak-anak yang kesehariannya tida k seperti anak lain; belajar dan bermain.

Anak-anak di Desa Batu Lapan-Lubuk Pakam ini menghabiskan waktu luangnya untuk membuat batu bata. Proses pembuatan bata dimulai dari mencetak, membakar hingga menjemur. Dalam sehari menurut salah seorang anak pembuat bata, Anto (11), upah diterima setelah batu bata selesai dan siap dijual. Dia menerima upah 2 Rp untu per bata yang sudah jadi. Umumnya, proses pembuatan batu bata memakan waktu sampai tiga minggu dari proses mencetak hingga pengeringan selesai. Rata-rata batu bata yang dihasilkan bisa mencapai 500 buah.

Menurut anak-anak di Desa Batu Lapan yang bekerja di pembuatan batu bata, mereka bekerja dengan sukarela dan niat untuk membantu perekonomian keluarga. Lagipula pembuatan bata di Desa tersebut sudah merupakan keahlian turun-menurun. Tak heran kalau tangan kecil mereka begitu ahli menghasilkan batu bata yang merupakan salah satu bahan membuat bangunan. Bagi anak-anak ini, batu bata adalah media untuk mereka berjumapa dengan kawan-kawannya yang lain disamping menghasilkan uang untuk membantu keluarga tercinta.

Jumat, 13 Februari 2009

Akrab Dengan Bahaya



Orang-orang pinggiran di Medan adalah masyarakat kebanyakan. Salah satunya yang tinggal di pinggir jalur rel kereta api. Seperti yang ada di foto-foto ini. Ada banyak alasan mengapa orang-orang ini berani menghadapi bahaya--tinggal berdampingan dengan jalur kereta api yang masih aktif. Salah satunya adalah kesusahan perekonomian. Menurut Bu Regar, nenek dari lima orang cucu ini, dia sudah sepuluh tahun tinggal di pinggir rel kereta api kawasan Jalan Tamrin. " karena tidak adanya uanglah, maka saya harus tinggal di samping rela ini. Kalau ada uang saya, masak saya tidak mau tinggal di tempat yang lebih nyaman." Jelasnya dengan serius.

Selain dia dan seorag anak dan soerang menantunya bersama dua cucunya, masiha ada sekitar 50 kepala keluarga yang tinggal di sepanjang pinggir rel kereta api di kawasan Jalan Tamrin tersebut. Rata-rata dari mereka berprofesi sebagaii pemulung atau peminta-minta. Selain sebagai tukang cuci pakaian, pembantu Rumah Tangga (RT) dan pelayan toko.

Meski tinggal di kawasan berbahaya, tetapi kelihatannya mereka sudah terbiasa dan menganggap deru mesin kereta api yang lewat hingga belasan kali dalam sehari merupakan hal wajar. Bahkan anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut sudah sangat mengenal jadwal kedaangan kereta. Kuping mereka juga sangat peka dengan suara kerta api yang tiba dari kejauhan sehingga mereka sudah menjauh dari rel, ketika kereta lewat.Yang mereka takuti bukanlah bahaya kalau-kalau disambar kereta api, namun justru penggusuran oleh pihak Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) lah yang menghantui kecemasan mereka.

Kamis, 12 Februari 2009

Cap Gomeh



Cap Go Meh tahun ini di Medan juga dirayakan oleh kaum etnis peranakan Tionghoa. Diantaranya yang di adakan di Kompleks Asia Mega Mas Medan, Senin (9/2) cukup mempesona. Salah satu kegiatannya, atraksi barongsai. Beberapa photo bisa di lihat di sini. Paling tidak, untukku yang lagi belajar hunting foto. Ada sesuatu yang bisa dijepret:))

Barongsai adalah tarian tradisi cina yang sangat unik karena pelakonnya menggunakan kostum berwujud singa diiringi dengan musik dan bunyi-bunyian tambur dan tetabuahan. Aksi barongsai biasanya juga memiliki cerita yang dilakonkan dengan berbagai gerakkan mendebarkan seperti lompatan-lompatan di atas kayu dengan tinggi bervariasai berkisar dua meter atau lebih.

Barongasai yang merupakan tarian etnis china sejak ribuan tahun, dikenal di Indonesia sejak kaum etnis ini datang pertamakalinya ke Indonesia sejak abad ke-17 an. Meski pada tahun 1965 barongsai sempat redup karena hambatan politik pada saat itu. Namun sekarang barongsai kembali mendapat tempat di Indonesia dan disenangi masarakat.

Kata Barongsai berasal dari kata barong yang berasal dari bahasa Jawa dan sai berasal dari bahasa Hokkian yang berarti singa. Menurut kaum etnis Tionghoa, singa membawa kebahagiaan. Sedangka dalam bahasa mandarin barongsai ini disebut "Wu Lung Sui".

Aksi barongsai ini juga diiringi oleh shi zi lang yaitu penari yang memakai topeng dan berada di depan baronsai yang memberi aba-aba untuk barongsai beraksi seperti meloncat, memakan sayur dan memetik bunga.

Meski pada awalnya barongsai tidak dikaitkan dengan ritual keagamaan, namun karena dipercayai oleh etnis Tionghoa, barongsai mampu mengusir roh-roh jahat, maka barongsai disinergikan dengan acara-acara agama seperti acara Cap Gomeh kali ini.
Simpan sebagai Konsep